Pages

Tampilkan postingan dengan label islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label islam. Tampilkan semua postingan

Senin, 16 Januari 2012

Sabar Dan Keutamaannya

Sabar Dan Keutamaannya Allah berfirman : Sesungguhnya hanya orang-orangyang bersabarlah yang dicukupkan pahala tanpa batas. [QS. 39:10]
Dan firman-Nya : Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadam, dengansedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan.Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, [QS.2:155]
[yaitu] orang-orang yang apabila ditimpa musibah, merekamengucapkan: Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji'uun . [QS. 2:156]
Mereka itulah yang mendapatkan keberkatan yang sempurna dan rahmatdari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.[QS. 2:157]
Dari Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma bahwa seorang wanitadatang menghadap Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan berkata: Ya Rasulullah ! sungguh saya ini sering terkena ayan dan [ ketikaterkena ayan ] aurat saya terbuka, maka berdo'alah untuk saya. MakaRasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berkata : jika kamuberkehendak [ agar untuk bersabar ], maka kamu bersabar dan kamuakan mendapatkan surga, dan jika kamu berkehendak [ agar sayaberdo'a ] maka saya akan berdo'a kepada Allah agar Diamenyembuhkanmu. Maka wanita itu menjawab : saya akan bersabar, laluberkata lagi : tetapi aurat saya sering terbuka [ ketika penyakitini datang ] oleh karena itu do'akanlah agar aurat saya tidakterbuka, maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berdo'auntuknya.HR. Bukhari dan Muslim.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda : sungguhmenakjubkan segala perkara orang yang beriman, dan semua itu baikbaginya dan hal itu tidak dimiliki oleh selain orang yang beriman :yaitu jika ia mendapatkan kebaikan atau kesenangan maka dia akanbersyukur dan yang sedemikian itu baik baginya, dan jika ia terkenahal yang tidak menyenangkan [ mara bahaya ] maka dia bersabar danhal yang sedemikian itu baik baginya. HR. Muslim.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda : tidaklah adasesuatu yang menimpa seorang muslim [ baik sesuatu itu berupa ]kelelahan, penyakit, kegundahan, kesedihan, atau sesuatu yangmenyakitkannya sampai duri yang menimpanya kecuali Allahmenggugurkan sebagian dosa-dosanya karena mushibah tersebut. HR.Bukhari dan Muslim
Dalam hadits lain Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallambersabda : tidaklah seorang muslim tertimpa sesuatu yangmenyakitkannya kecuali Allah menggugurkan dosa-dosanya, sebagaimanagugurnya [ berjatuhannya ] daun-daun pepohonan. HR. Bukhari danMuslim.
Keterangan.
Sungguh kesenagan dan kesusahan yang kita alami adalah cobaan dariAllah bahkan kehidupan dunia ini semuanya adalah cobaan. Agarmendapatkan kebahagian dunia dan akhirat, maka setiap muslim harusmemahami hakekat kehidupan dunia ini dan mengambil bekal utama dalammenjalaninya, di antara bekal tersebut adalah sikap sabar.
Sabar mempunyai kedudukan yang agung dalam agama Islam, bahkan semuaurusan agama berdiri di atas sabar tersebut yaitu :
Sabar dalam menjalankan perintah Allah Ta'ala
Sabar dalam menjauhi larangan-Nya
Sabar dalam menghadapi mushibah yang dihadapi.
Dan orang yang bersabar dialah yang beruntung, karena dia telahmelaksanakan ketaatan kepada Allah dan mengharapkan balasan darinya,dan karena gelisah dan bertindak tidak ridha atas apa yang telahmenimpa adalah tindakan yang tidak akan merugikan kecuali yangbersangkutan karena orang yang tidak ridha dengan taqdir Allah berartidia telah terkena mushibah dua kali, mushibah atas mushibah yang telahmenimpanya dan mushibah atas hilangnya pahala yang besar yang telahdijanjikan oleh Allah bagi mereka yang bersabar dalam menghadapitaqdir-Nya.
Adapun di antara janji Allah bagi orang mu'min yang bersabar adalah :
Allah akan memberikan ganjaran kepadanya tanpa terhitung.
Dengan mushibah tersebut [ jika bersabar dan mengharapkanbalasan dari Allah ] Allah akan menghapuskan dosa-dosanya.
Allah akan mengangkat derajat orang yang sabar dalam menghadapicobaan dari Allah.
Kandungan ayat dan hadits.
Keutamaan bersabar.
Keutamaan orang yang beriman.
Keluasan rahmat Allah bagi orang-orang yang beriman dengandihapuskan dosa-dosanya dengan segala macam mushibah yang menimpanya
Artikel Sabar Dan Keutamaannya diambil dari http://www.asofwah.or.id
Sabar Dan Keutamaannya.

Keutamaan Menahan Marah

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEioewyrHs7QY06kL3523TB_kPib9J5SaRTEtZXTQgALU2d_jPcNxS5JI9gmZARJiK56Q33t9MLz6B9-wZjg_B9OGXr-JVdAXwWLdpFCgfICoXxSOVSZ1C1VXPGT_HcUTD-R1bJEv7aOVgwN/s320/jangan_marah.jpg

Oleh Ust.Abdurrohim

Diantara maksud dan tujuan disyariatkannya puasa adalah latihan menahan nafsu amarah (suka marah). Orang yang mampu menahan marah lebih baik dan lebih sempurna daripada orang yang suka marah (pemarah). Dan itulah yang disebut orang kuat.
Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bersabda : �Orang kuat itu bukanlah yang menang dalam gulat tetapi orang kuat adalah yang mampu menahan nafsu amarahnya.� (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat lain, disebutkan hadits dari Ibnu Mas�ud Radliyallahu �anhu Rasulullah bersabda : �Siapa yang dikatakan paling kuat diantara kalian ? Shahabat menjawab : yaitu diantara kami yang paling kuat gulatnya. Beliau bersabda : Bukan begitu, tetapi dia adalah yang paling kuat mengendalikan nafsunya ketika marah.� (HR. Muslim)
Al Imam Ahmad meriwayatkan hadits dari Anas Al Juba�i , bahwa Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bersabda : �Barangsiapa yang mampu menahan marahnya padahal dia mampu menyalurkannya, maka Allah menyeru pada hari kiamat dari atas khalayak makhluk sampai disuruh memilih bidadari mana yang mereka mau.� (HR. Ahmad dengan sanad hasan)
Al Imam Ahmad juga meriwayatkan hadits dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bersabda : �Tidaklah hamba meneguk tegukan yang lebih utama di sisi Allah Subhanahu wa Ta�ala, dari meneguk kemarahan karena mengharap wajah Allah Subhanahu wa Ta�ala.� (Hadits shahih riwayat Ahmad)
Al Imam Abu Dawud rahimahullah mengeluarkan hadits secara makna dari shahabat Nabi, bahwa Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bersabda : �Tidaklah seorang hamba menahan kemarahan karena Allah Subhanahu wa Ta�ala kecuali Allah Subhanahu wa Ta�ala akan memenuhi baginya keamanan dan keimanan.� (HR. Abu Dawud dengan sanad Hasan)
Hadits-hadits ini menerangkan keutamaan menahan marah dari pada orang yang mudah marah/pemarah. Dari itu, Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam berwasiat kepada sahabat ketika datang pada beliau untuk meminta wasiat, beliau bersabda dengan diulang-ulang : �Jangan mudah marah..� Lengkap haditsnya adalah sebagai berikut :
�Dari Abu Hurairah Radliyallahu �anhu, bahwa seseorang berkata kepada Nabi Shalallahu alaihi wasallam : berwasiatlah kepadaku. Beliau bersabda : jangan menjadi seorang pemarah. Kemudian diulang-ulang beberapa kali. Dan beliau bersabda : janganlah menjadi orang pemarah� (HR. Bukhari)
Al Imam Ahmad rahimahullah meriwayatkan hadits dari seseorang dari shahabat Nabi Shalallahu alaihi wasallam dia berkata : � Aku berkata : Ya Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam berwasiatlah kepadaku. Beliau bersabda : jangan menjadi pemarah. Maka berkata seseorang : maka aku pikirkan apa yang beliau sabdakan, ternyata pada sifat pemarah itu terkumpul seluruh kejelekan.� (HR. Imam Ahmad)

Berkata Ibnu Ja�far bin Muhammad rahimahullah : �Marah itu pintu seluruh kejelekan.�
Al Imam Ahmad menafsirkan hadits ini dengan mengatakan : akhlak yang mulia itu dengan meninggalkan sifat pemarah.
Al Imam Ibnu Rajab rahimahullah menerangkan maksud hadits ini dengan mengatakan : sabda Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam : �Jangan menjadi pemarah.� Ini mengandung dua kemungkinan maksud :
1.Hadits ini mengandung perintah melakukan sebab-sebab yang menjadikan akhlak yang mulia seperti bersikap lembut, pemalu, tidak suka mengganggu, pemaaf, tidak mudah marah.
2.Hadits ini mengandung larangan melakukan hal-hal yang menyebabkan kemarahan, mengandung perintah agar sekuat tenaga menahan marah ketika timbul/berhadapan dengan penyebabnya sehingga dengan demikian dia akan terhindar dari efek negatif sifat pemarah.
Sehingga Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam mangajarkan cara-cara menghilangkan kemarahan dan cara menghindari efek negatifnya, diantaranya adalah:

1. Membaca ta�awudz ketika marah.
Al Imam Al Bukhari dan Al Imam Muslim rahimakumullah meriwayatkan hadits dari Sulaiman bin Surod Radliyallahu �anhu :
�Ada dua orang saling mencela di sisi Nabi Shalallahu alaihi wasallam dan kami sedang duduk di samping Nabi Shalallahu alaihi wasallam . Salah satu dari keduanya mencela lawannya dengan penuh kemarahan sampai memerah wajahnya. Maka Nabi Shalallahu alaihi wasallam bersabda : Sesungguhnya aku akan ajarkan suatu kalimat yang kalau diucapkan akan hilang apa yang ada padanya. Yaitu sekiranya dia mengucapkan : �Audzubillahi minasy Syaithani rrajiim. Maka mereka berkata kepada yang marah tadi : Tidakkah kalian dengar apa yang disabdakan nabi? Dia menjawab : Aku ini bukan orang gila.�

2. Dengan duduk
Apabila dengan ta�awudz kemarahan belum hilang maka disyariatkan dengan duduk, tidak boleh berdiri.
Al Imam Ahmad dan Abu Dawud rahimahullah meriwayatkan hadits dari Abu Dzar Radliyallahu �anhu bahwa Nabi Shalallahu alaihi wasallam bersabda :
�Apabila salah seorang diantara kalian marah dalam keadaan berdiri duduklah, jika belum hilang maka berbaringlah.�
Hal ini karena marah dalam berdiri lebih besar kemungkinannya melakukan kejelekan dan kerusakan daripada dalam keadaan duduk. Sedangkan berbaring lebih jauh lagi dari duduk dan berdiri.

3. Tidak bicara
Diam tidak berbicara ketika marah merupakan obat yang mujarab untuk menghilangkan kemarahan, karena banyak berbicara dalam keadaan marah tidak bisa terkontrol sehingga terjatuh pada pembicaraan yang tercela dan membahayakan dirinya dan orang lain.
Dalam hadits disebutkan :�Apabila diantara kalian marah maka diamlah.� Beliau ucapkan tiga kali. (HR. Ahmad)

4. Berwudlu
Sesungguhnya marah itu dari setan. Dan setan itu diciptakan dari api maka api itu bisa diredam dengan air, demikian juga sifat marah bias diredam dengan berwudlu.
Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bersabda :
�Sesungguhnya marah itu dari syaithan dan syaithan itu dicipta dari api, dan api itu diredam dengan air maka apabila diantara kalian marah berwudlulah.� (HR. Ahmad dan yang lainnya dengan sanad hasan)
Adapun pemicu kemarahan ada empat, barangsiapa yang mampu mengendalikan maka Allah Subhanahu wa Ta�ala akan dijaga dari syetan dan diselamatkan dari neraka.
Berkata Al Imam Al Hasan Al Bashri rahimahullah :
�Empat hal, barangsiapa yang mampu mengedalikannya maka Allah akan menjaga dari syetan dan diharomkan dari neraka : yaitu seseorang mampu menguasai nafsunya ketika berkeinginan, cemas, syahwat dan marah.�
Empat hal ini yaitu keinginan, cemas, syahwat dan marah merupakan pemicu seluruh kejelekan dan kejahatan bagi orang yang tidak mampu mengendalikan nafsunya.
1. Keinginan, adalah kecondongan nafsu pada sesuatu yang diyakini mendatangkan manfaat pada dirinya, seringnya orang yang tidak mampu menguasai nafsu akan berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan keinginannya itu dengan segala cara walaupun harus dengan cara harom, dan terkadang yang diinginkan juga berupa sesuatu yang haram.
2. Cemas, adalah rasa takut dari sesuatu. Orang yang cemas akan berupaya untuk menolaknya dengan segala cara walaupun harus dengan cara harom seperti meminta perlindungan kepada selain Allah.
3. Syahwat, adalah kecondongan nafsu pada sesuatu yang diyakini dapat memuaskan nafsunya. Seringnya orang yang kalah dengan nafsunya memuaskan nafsu syahwatnya itu pada sesuatu yang haram seperti zina, mencuri, minum khamer bahkan pada sesuatu yang menyebabkan kekufuran, kebid�ahan dan kemunafikan.
4. Marah, adalah gelagaknya darah hati untuk menolak gangguan sebelum terjadi atau untuk membalas gangguan yang sudah terjadi. Kemarahan seringnya dilakukan dalam bentuk perbuatan yang diharamkan seperti pembunuhan, pemukulan dan berbagai kejahatan yang melampaui batas. Terkadang dalam bentuk perkataan yang diharamkan seperti tuduhan palsu, mencela dan perkataan keji lainnya dan terkadang meningkat sampai pada perkataan kufur.
Tetapi tidak semua kemarahan itu tercela, ada yang terpuji , bahkan sampai pada tingkatan harus marah yaitu ketika kita melihat agama Allah direndahkan dan dihinakan, maka kita harus marah karena Allah terhadap pelakunya. Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam tidak pernah marah jika celaan hanya tertuju pada pribadinya dan beliau sangat marah ketika melihat atau mendengar sesuatu yang dibenci Allah maka Beliau tidak diam, beliau marah dan berbicara.
Ketika Nabi Shalallahu alaihi wasallam melihat kelambu rumah Aisyah ada gambar makhluk hidupnya (yaitu gambar kuda bersayap) maka merah wajah Beliau dan bersabda :
�Sesungguhnya orang yang paling keras siksaannya pada hari kiamat adalah orang membuat gambar seperti gambar ini.� (HR. Bukhari Muslim)
Nabi Shalallahu alaihi wasallam juga marah terhadap seorang sahabat yang menjadi imam shalat dan terlalu panjang bacaannya dan beliau memerintahkan untuk meringankannya. Tetapi Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam tidak pernah marah karena pribadinya.
Al Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan hadits Anas radhiyallahu anhu :
�Anas membantu rumah tangga Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam selama 10 tahun, maka tidak pernah beliau berkata kepada Anas : �ah�, sama sekali. Beliau tidak berkata terhadap apa yang dikerjakan Anas : �mengapa kamu berbuat ini.� Dan terhadap apa yang tidak dikerjakan Anas,�Tidakkah kamu berbuat begini.� (HR. Bukhari dan Muslim)
Begitulah keadaan beliau senantiasa berada diatas kebenaran baik ketika marah maupun ketika dalam keadaan ridha/tidak marah. Dan demikianlah semestinya setiap kita selalu diatas kebenaran ketika ridha dan ketika marah.
Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bersabda : artinya :
�Ya Allah, aku memohon kepada-Mu berbicara yang benar ketika marah dan ridha.� (Hadits shahih riwayat Nasa�i)
Al Imam Ath Thabari rahimahullah meriwayatkan hadits Anas :
�Tiga hal termasuk akhlak keimanan yaitu : orang yang jika marah kemarahannya tidak memasukkan ke dalam perkara batil, jika senang maka kesenangannya tidak mengeluarkan dari kebenaran dan jika dia mampu dia tidak melakukan yang tidak semestinya.�
Maka wajib bagi setiap muslim menempatkan nafsu amarahnya terhadap apa yang dibolehkan oleh Allah Subhanahu wa Ta�ala, tidak melampaui batas terhadap apa yang dilarang sehingga nafsu dan syahwatnya menyeret kepada kemaksiatan, kemunafikan apalagi sampai kepada kekafiran.
Kesempatan baik ini untuk melatih diri kita menuju sifat kesempurnaan dengan menghilangkan sifat pemarah dan berupaya menjadi orang yang tidak mudah marah.
Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bersabda : �Bukanlah puasa itu sekedar menahan makan dan minum. Sesungguhnya puasa itu (adalah puasa) dari perbuatan keji dan sia-sia. Apabila ada orang yang mencelamu atau membodohimu maka katakanlah : sesungguhnya aku sedang berpuasa, sesungguhnya aku sedang berpuasa.� (HR. Ibnu Huzaimah dengan sanad shahih)
Wallahu a�lam bishawab.

(Dikutip dari artikel Keutamaan Menahan Marah, ditulis oleh ustadz Abdurrahim, Malang. Dikirim via Email oleh Akhi Khudori, Malang dan edit oleh redaksi. Sumber www.darussalaf.or.id)